Rabu, 19 April 2017

Sistem Penanggulangan Bencana



Sistem Penanggulangan Bencana

Indonesia menyadari bahwa masalah kebencanaan harus ditangani secara serius sejak terjadinya gempabumi dan disusul tsunami yang menerjang Aceh dan sekitarnya pada 2004. Kebencanaan merupakan pembahasan yang sangat komprehensif dan multi dimensi. Menyikapi kebencanaan yang frekuensinya terus meningkat setiap tahun, pemikiran terhadap penanggulangan bencana harus dipahami dan diimplementasikan oleh semua pihak. Bencana adalah urusan semua pihak. Secara periodik, Indonesia membangun sistem nasional penanggulangan bencana. Sistem nasional ini mencakup beberapa aspek antara lain:
Legislasi
Dari sisi legislasi, Pemerintah Indonesia telah mengesahkan Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 Tentang Penanggulangan Bencana. Produk hukum di bawahnya antara lain Peraturan Pemerintah , Peraturan Presiden, Peraturan Kepala Kepala Badan, serta peraturan daerah. (Lebih detail lihat Produk Hukum).

Kelembagaan
Kelembagaan dapat ditinjau dari sisi formal dan non formal. Secara formal, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) merupakan focal point lembaga pemerintah di tingkat pusat. Sementara itu, focal point penanggulangan bencana di tingkat provinsi dan kabupaten/kota adalah Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD).

Dari sisi non formal, forum-forum baik di tingkat nasional dan lokal dibentuk untuk memperkuat penyelenggaran penanggulangan bencana di Indonesia. Di tingkat nasional, terbentuk Platform Nasional (Planas) yang terdiri unsur masyarakat sipil, dunia usaha, perguruan tinggi, media dan lembaga internasional. Pada tingkat lokal, kita mengenal Forum PRB Yogyakarta dan Forum PRB Nusa Tenggara Timur.

Pendanaan
Saat ini kebencanaan bukan hanya isu lokal atau nasional, tetapi melibatkan internasional. Komunitas internasional mendukung Pemerintah Indonesia dalam membangun manajemen penanggulangan bencana menjadi lebih baik. Di sisi lain, kepedulian dan keseriusan Pemerintah Indonesia terhadap masalah bencana sangat tinggi dengan dibuktikan dengan penganggaran yang signifikan khususnya untuk pengarusutamaan pengurangan risiko bencana dalam pembangunan.

Berikut beberapa pendanaan yang terkait dengan penanggulangan bencana di Indonesia:
  1. Dana DIPA (APBN/APBD)
  2. Dana Kontijensi
  3. Dana On-call
  4. Dana Bantual Sosial Berpola Hibah
  5. Dana yang bersumber dari masyarakat
  6. Dana dukungan komunitas internasional


( TMK)

Selasa, 18 April 2017


SAWAHLUNTO -- Kantor BPBD Sawahlunto terbakar, kejadian ini terjadi sekitar pukul 15:55 WIB. Selasa, 18 April 2017.
Kebakaran ini menghanguskan bangunan kantor yang terletak di Jalan Khatib Sulaiman, Desa Santur, Kecamatan Barangin, Kota Sawahlunto dan gudang logistik BPBD Sawahlunto.
"Api membesar dengan cepat dan menghanguskan bangunan kantor," kata salah satu anggota Tagana Sawahlunto, Alfinaldi Byom 
Belum jelas penyebab kebakaran ini, saat ini pihak BPBD tengah berupaya memadamkan api yang dibantu dengan 3 unit pemadam.

Berdasarkan pantauan, kejadian ini disaksikan oleh banyak masyarakat yang bermukim disana.(*) 
Berikut videonya :                                                                                                                      (Tmk)

Senin, 17 April 2017

SIAGA BENCANA



Siaga Bencana
Apakah anda sudah siap siaga menghadapi ancaman bencana? Sejak dini, kita perlu menyadari bahwa kita hidup di wilayah rawan bencana. Kenyataan ini mendorong kita untuk mempersiapkan diri, keluarga, dan komunitas di sekitar kita. Kesiapsiagaan diri diharapkan pada akhirnya mampu untuk mengantisipasi ancaman bencana dan meminimalkan korban jiwa, korban luka, maupun kerusakan infrastruktur. Mulai dari dalam diri sendiri, kita dapat membantu keluarga dan komunitas untuk membangun kesiapsiagaan, maupun pada saat menghadapi bencana dan pulih kembali pasca bencana.

Berikut beberapa jenis bencana dan cara apa yang kita harus lakukan ketika bencana itu datang:

  1.  Gempa Bumi
  2.  Tsunami
  3.  Gunung Api
  4.  Banjir
  5.  Tanah Longsor
  6.  Kekeringan
  7.  Angin Topan
  8.  Kebakaran
  9.  Wabah Penyakit





Banjir

Banjir adalah bencana yang sering terjadi di wilayah Indonesia. Bencana yang disebabkan oleh faktor hidrometeorologi ini selalu meningkat setiap tahunnya. Meskipun terkadang tidak menimbulkan banyak korban jiwa, bencana ini tetap saja merusak infrastruktur dan mengganggu stablitas perekonomian masyarakat secara signifikan.

Karakteristik banjir sangat beragam. Banjir dapat disebabkan karena curah hujan yang tinggi dengan tidak diimbangi serapan tanah yang cukup. Atau dapat terjadi dalam bentuk rob atau bandang. Oleh karena itu, kita harus siap untuk mengantisipasi setiap jenis bencana banjir.

Apa yang dilakukan sebelum terjadi banjir
  1. Perhatikan ketinggian rumah Anda dari bangunan yang rawan banjir.
  2. Tinggikan panel listrik.
  3. Hubungi pihak berwenang apabila akan dibangun dinding penghalang di sekitar wilayah Anda.
Apa yang dilakukan pada saat terjadi bencana


a). Apabila banjir akan terjadi di wilayah Anda:
  • Simak informasi dari radio mengenai informasi banjir
  • Waspada terhadap banjir yang akan melanda. Apabila terjadi banjir bandang, beranjak segera ke tempat yang lebih tinggi; jangan menunggu instruksi terkait arahan beranjak.
  • Waspada terhadap arus bawah, saluran air, kubangan, dan tempat-tempat lain yang tergenang air. Banjir bandang dapat terjadi di tempat ini dengan atau tanpa peringatan pada saat hujan biasa atau deras.
b). Apabila Anda harus bersiap untuk evakuasi:
  • Amankan rumah Anda. Apabila masih tersedia waktu, tempatkan perabot di luar rumah. Barang yang lebih berharga diletakan pada bagian yang lebih tinggi di dalam rumah.
  • Matikan semua jaringan listrik apabila ada instruksi dari pihak berwenang. Cabut alat-alat yang masih tersambung dengan listrik. Jangan menyentuh peralatan yang bermuatan listrik apabila Anda berdiri di atas air.
c). Apabila Anda harus meninggalkan rumah:
  • Jangan berjalan di arus air. Beberapa langkah berjalan di arus air dapat mengakibatkan Anda jatuh.
  • Apabila Anda harus berjalan di air, berjalanlah pada pijakan yang tidak bergerak. Gunakan tongkat atau sejenisnya untuk mengecek kepadatan tempat Anda berpijak.
  • Jangan mengemudikan mobil di wilayah banjir. Apabila air mulai naik, abaikan mobil dan keluarlah ke tempat yang lebih tinggi. Apabila hal ini tidak dilakukan, Anda dan mobil dapat tersapu arus banjir dengan cepat.






Gunung Api

Letusan gunungapi memberikan catatan sejarah tersendiri terhadap kebencanaan di Indonesia. Beberapa letusan dahsyat tidak hanya berdampak di wilayah Indonesia tetapi juga wilayah-wilah di benua lain. Letusan gunungapi dahsyat antara lain mengguncang Gunung Toba, Tambora (1815), dan Krakatau (1883). Indonesia yang dilewati oleh barisan gunungapi atau lebih dikenal dengan cincin api memiliki 29 gunungapi aktif.

Menghadapi ancaman letusan gunungapi, Anda memiliki lebih banyak waktu karena aktivitas letusan mengalami proses yang dapat dideteksi oleh para ahli dan pihak berwenang. Masyarakat yang hidup di sekitar gunungapi aktif mungkin akan melihat pergerakan binatang-binatang yang menjauh karena suhu yang memanas, getaran gempa, maupun bau sulfur.

Apa yang dilakukan sebelum terjadi letusan gunungapi
  1. Memperhatikan arahan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) terkait dengan perkembangan aktivitas gunungapi.
  2. Persiapkan masker dan kacamata pelindung untuk mengantisipasi debu vulkanik.
  3. Mengetahui jalur evakuasi dan shelter yang telah disiapkan oleh pihak berwenang.
  4. Mempersiapkan skenario evakuasi lain apabila dampak letusan meluas di luar prediksi ahli.
  5. Persiapkan dukungan logistik:
    • Makanan siap saji dan minuman
    • Lampu senter dan baterai cadangan
    • Uang tunai secukupnya
    • Obat-obatan khusus sesuai pemakai

Apa yang dilakukan pada saat terjadi letusan gunungapi
  1. Pastikan anda sudah berada di shelter atau tempat lain yang aman dari dampak letusan.
  2. Gunakan masker dan kacamata pelindung
  3. Selalu memperhatikan arahan dari pihak berwenang selama berada di shelter.

Apa yang dilakukan sesudah terjadi letusan gempabumi
  1. Apabila Anda dan keluarga harus tinggal lebih lama di shelter, pastikan kebutuhan dasar terpenuhi dan pendampingan khusus bagi anak-anak dan remaja diberikan. Dukungan orangtua yang bekerjasama dengan organisasi kemanusiaan dalam pendampingan anak-anak dan remaja sangat penting untuk mengurangi stres atau ketertekanan selama di shelter.
  2. Tetap gunakan master dan kacamata pelindung ketika berada di wilayah yang terdampak abu vulkanik.
  3. Memperhatikan perkembangan informasi dari pihak berwenang melalui radio atau pengumuman dari pihak berwenang.
  4. Waspada terhadap kemungkinan bahaya kedua atau secondary hazard berupa banjir lahar dingin. Bencana ini dipicu oleh curah hujan tinggi dan menghanyutkan material vulkanik maupun reruntuhan kayu atau apapun sepanjang sungai dari hilir ke hulu. Perhatikan bentangan kiri dan kanan dari titik sungai mengantisipasi luapan banjir lahar dingin.





Tanah Longsor

Tanah longsor seringkali dipicu oleh curah hujan tinggi dan terjadi selama beberapa hari. Struktur tanah yang labil sangat mudah mengalami longsor hingga mengakibatkan bencana khususnya bagi masyarakat yang berada di posisi lebih rendah. Tanah longsor juga dapat dipicu oleh getaran gempa hingga merontokkan struktur tanah di atas.

Anda dan masyarakat di pegunungan atau perbukitan harus memperhatikan tempat sekeliling Anda tinggal dan berkonsultasi dengan ahli terkait dengan kondisi tempat tinggal Anda.

Apa yang dilakukan sebelum terjadi tanah longsor
  1. Waspada terhadap curah hujan yang tinggi
  2. Persiapkan dukungan logistik
    • Makanan siap saji dan minuman
    • Lampu senter dan baterai cadangan
    • Uang tunai secukupnya
    • Obat-obatan khusus sesuai pemakai
  3. Simak informasi dari radio mengenai informasi hujan dan kemungkinan tanah longsor.
  4. Apabila pihak berwenang menginstruksikan untuk evakuasi, segera lakukan hal tersebut.

Apa yang dilakukan pada saat terjadi tanah longsor
  1. Apabila Anda di dalam rumah dan terdengar suara gemuruh, segera ke luar cari tempat lapang dan tanpa penghalang
  2. Apabila Anda di luar, cari tempat yang lapang dan perhatikan sisi tebih atau tanah yang mengalami longsor.

Apa yang dilakukan sesudah terjadi tanah longsor
  1. Jangan segera kembali ke rumah Anda, perhatikan apakah longsor susulan masih akan terjadi.
  2. Apabila Anda diminta untuk membantu proses evakuasi, gunakan sepatu khusus dan peralatan yang menjamin keselamatan Anda.
  3. Perhatikan kondisi tanah sebagai pijakan yang kokoh bagi langkah Anda.
  4. Apabila harus menghadapi reruntuhan bangunan untuk menyelamatkan korban, pastikan tidak menimbulkan dampak yang lebih buruk atau menunggu pihak berwenang untuk melakukan evakuasi korban.





Tsunami

Tsunami merupakan gelombang air laut besar yang dipicu oleh pusaran air bawah laut karena pergeseran lempeng, tanah longsor, erupsi gunungapi, dan jatuhnya meteor. Tsunami dapat bergerak dengan kecepatan sangat tinggi dan dapat mencapai daratan dengan ketinggian gelombang hingga 30 meter.

Tsunami sangat berpotensi bahaya meskipun tsunami ini tidak terlalu merusak garis pantai. Gempa yang disebabkan pergerakan dasar laut atau pergeseran lempeng yang paling sering menimbulkan tsunami. Pada tahun 2006 Indonesia mengalami tsunami dahsyat setelah gempabumi berskala 8.9 SR terjadi di sekitar Aceh.

Area yang memiliki risiko tinggi jika gempa bumi besar atau tanah longsor terjadi dekat pantai gelombang pertama dalam seri bisa mencapai pantai dalam beberapa menit, bahkan sebelum peringatan dikeluarkan. Area berada pada risiko yang lebih besar jika berlokasi kurang dari 25 meter di atas permukaan laut dan dalam beberapa meter dari garis pantai.

Apa yang dilakukan sebelum dan pada saat terjadi tsunami
  1. Nyalakan radio untuk mengetahui apakah tsunami terjadi setelah adanya gempabumi di sekitar wilayah pantai.
  2. Cepat bergerak ke arah daratan yang lebih tinggi dan tinggal di sana sementara waktu.
  3. Jauhi pantai. Jangan pernah menuju ke pantai untuk melihat datangnya tsunami. Apabila Anda dapat melihat gelombang, anda berada terlalu dekat. Segera menjauh.
  4. Waspada- apabila terjadi air surut, jauhi pinggir pantai. Ini merupakan salah satu peringatan tsunami dan harus diperhatikan.

Apa yang dilakukan setelah terjadi tsunami

  1. Jauhi area yang tergenang dan rusak sampai ada informasi aman dari pihak berwenang.
  2. Jauhi reruntuhan di dalam air. Hal ini sangat berpengaruh terhadap keamanan perahu penyelamat dan orang-orang di sekitar.
  3. Utamakan keselamatan dan bukan barang-barang Anda.  

https://www.bnpb.go.id/home

(TMK)







H K B N ( Hari Kesiapiagaan Bencana Nasional )

TENTANG
Membangun Kesadaran, Kewaspadaan dan Kesiapsiagaan dalam Menghadapi Bencana
#SiapUntukSelamat




Tujuan Umum dan Sasaran
Tujuan Umum
  1. Memperingati 10 Tahun disahkannya UU 24/2007 tentang Penanggulangan Bencana.
  2. Promosi kegiatan Simulasi Nasional Kesiapsiagaan Bencana pada tanggal 26 April untuk dijadikan Simulasi Nasional Kesiapsiagaan Bencana yang dilaksanakan serentak.
  3. Meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan nasional dalam menghadapi ancaman bencana.
Sasaran
  1. Meningkatkan kesadaran dan kewaspadaan masyarakat serta pemangku kepentingan dalam menghadapi risiko bencana berdasarkan potensi bencana setempat.
  2. Meningkatkan partisipasi, dan membangun budaya gotong royong, kerelawanan serta kedermawanan para pemangku kepentingan baik di tingkat pusat maupun daerah.
  3. Mengukur tingkat kewaspadaan dan kesiapsiagaan masyarakat baik di tingkat pusat maupun daerah dalam menghadapi ancaman bencana.
Waktu Pelaksanaan Kegiatan
Waktu pelaksanaan kegiatan ini ditetapkan pada tanggal 26 April 2017, dilaksanakan serentak seIndonesia pada jam 10.00 – 12.00 waktu setempat.
Tempat Pelaksanaan Kegiatan
Tempat pelaksanaan kegiatan ini disesuaikan dengan jenis kegiatan utama maupun kegiatan pendukung yang dipilih oleh pemangku kepentingan baik di tingkat pusat maupun daerah.
Sejarah
Kesiapsiagaan merupakan kegiatan yang terukur dalam mengurangi dampak dari bencana yang telah diperkirakan sebelumnya. Kegiatan  kesiapsiagaan harus berdasarkan pengetahuan yang benar terhadap ancaman, respons yang memadai dan penggunaan sumber daya yang tersedia. Secara umum, kegiatan kesiapsiagaan meliputi penyampaian komunikasi peringatan kedaruratan, pelaksanaan proses evakuasi, kegiatan pelatihan dan simulasi, dan penyediaan peralatan dan respons terhadap emergensi tersebut.
Maksud dan Tujuan :
Tujuan Hari Kesiapsiagaan Bencana Nasional :
  1. Meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan nasional dalam menghadapi bencana.
  2. Mendorong partisipasi, kegotongroyongan, kerelawanan dan kedermawanan pemerintah, Pemda, Masyarakat dan Lembaga Usaha.
  3. Mengurangi Jumlah Korban, kerusakan dan kerugian akibat bencana.
  4. Menuju Ketangguhan Bangsa dan Negara.
Dasar Hukum :
  1. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangaan Bencana.
  2. Peraturan Presiden RI Nomor 8 Tahun 2008 tentang Badan Nasional Penanggulangan Bencana.
  3. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 46 Tahun 2008 tentang Pedoman Organisasi dan Tata Kerja Badan Penanggulangan Bencana Daerah.
  4. Peraturan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana Nomor 1 Tahun 2008 tentang Organisasi dan Tata Kerja Badan Nasional Penanggulangan Bencana.
  5. Peraturan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana Nomor 10 Tahun 2013 tentang Perubahan atas Peraturan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana Nomor 1 Tahun 2008 tentang Organisasi dan Tata Kerja Badan Nasional Penanggulangan Bencana.
  6. Peraturan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana Nomor 3 Tahun 2008 tentang Pembentukan Badan Penanggulangan Bencana Daerah.
  7. Peraturan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana Nomor 10 Tahun 2008 tentang Pedoman Sistem Komando Tanggap Darurat Bencana.








Senin, 05 Desember 2016










Banjir kembali melanda Dua Koto.
Jalur Panti - Simpang Empat kembali lumpuh. Sampai jam 11.00 WIB, belum bisa dilalui baik kendaraan roda 2 maupun roda 4. Untuk anda yang akan melalui wilayah ini, untuk tetap berhati-hati jangan sampai terjebak di tengah banjir. Lokasi terparah Simpang Dipuh (Kampung Pinang) kedalaman air di jalan raya mencapai dada orang dewasa. Untuk anda yang menggunakan kendaraan roda 2, bisa lewat akses jalan alternatif yaitu jalan usaha tani Pagaran - Silang Empat. Kalau dari arah Panti masuk dari Simpang Kalam (depan Polsek Dua Koto), dan dari arah Simpang 4 masuk dari Simpang SMPN 3 Dua Koto (Silang Empat).



Jumat, 25 November 2016

SUMBAR – Tim Fujitsu Jepang hari ini (18/11) mengunjungi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Sumatera Barat di kantor Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops). Dalam kunjungannya dua orang Tim dari Fujitsu yaitu Koibuchi Satoshi beserta Yudhi Dwi Amrata ditemui oleh Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik – R. Pagar Negara beserta Satgas Pusdalops membicarakan tentang teknologi manajemen informasi bencana yang diterapkan saat ini oleh BPBD Sumatera Barat.
Menurut R. Pagar Negara, Pusat Pengendalian Operasi BPBD Sumbar yang berdiri sejak tahun 2008 dalam melayani masyarakat Sumatera Barat telah berupaya mengupgrade sesuai perkembangan teknologi sistem informasi dan komunikasi dengan kemampuan yang dapat dikatakan masih standar, dan itu mendapat dukungan dari pemerintah provinsi sendiri juga telah dibantu oleh BNPB dan pihak-pihak lain. R. Pagar Negara menerangkan, untuk saat ini sistem informasi dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) juga masih dikembangkan seperti aplikasi data dan informasi bencana (INAWare) serta data dan informasi kajian risiko bencana (INARisk), namun ini belum disosialisasikan kepada daerah secara menyeluruh.
Yudhi Dwi Amrata sebagai Sales Dept.II dari Fujitsu mengunjungi BPBD Sumbar datang pada kali pertama pada pertemuan ini bertujuan untuk mengkaji terkait sistem management informasi bencana di Sumbar, dengan harapan Fujitsu kedepannya bisa menyumbangkan sistem yang dimilikinya bisa dipergunakan dan diintegrasikan dengan sistem yang telah ada di BPBD Sumbar. Untuk saat ini Fujitsu sendiri telah menciptakan aplikasi dan teknologi kebencanaan dinamakan Disaster Information Management System (DIMS) yang telah diterapkan di BPBD DKI. Yudi kembali menerangkan, sistem ini bekerja di Pusat Pengendalian Operasi BPBD DKI sebagai alat monitoring dan pengambil keputusan yang data dasarnya bersumber dari SKPD terkait serta dari Tim Reaksi Cepat (TRC) yang berada di lapangan disaat kejadian bencana. Jadi data dan informasi diperoleh dari peralatan dan aplikasi yang telah diberikan pada masing-masing SKPD terkait dan TRC yang kemudian terkumpul di database system yang berpusat di Pusat Pengendali (BPBD) dan dapat ditampilkan secara visual, grafik dan map area.
BPBD Sumbar melalui kabid. Kedaruratan dan Logistik - R.Pagar Negara mengapresiasi tujuan dari pihak Fujitsu, dan berharap peralatan serta aplikasi DIMS ini dapat diterapkan di Sumatera Barat. R. Pagar Negara juga menjelaskan, agar sistem yang dimiliki Fujitsu ini juga dapat diintegrasikan kepada aplikasi yang telah dibangun oleh Penanggulangan Bencana Pusat (BNPB) dengan tujuan sistem manajemen data dan informasi ini bisa searah dan sejalan. (Gst)

Senin, 21 November 2016

Waspadalah, 40,9 Juta Jiwa Terpapar Ancaman Longsor
16 November 2016 8:39 WIB
JAKARTA - Ditemukan 4 orang korban tewas dari longsor yang menimbun mobil di Jl. Kolonel Masturi RT. 07/ 06 Kampung Keramat Desa Cikahuripan Kecamatan Lembang Kabupaten Bandung Barat pada Selasa (15/11/2016) telah menambah jumlah korban longsor. Longsor adalah jenis bencana yang paling mematikan sejak tahun 2014, 2015 dan 2016 ini. Berdasarkan data sementara, secara nasional hingga Rabu (16/11/2016) terdapat 487 kejadian longsor yang menyebabkan 161 orang tewas, 88 orang luka, 38.092 orang menderita dan mengungsi dan ribuan rumah rusak.

Kejadian bencana longsor setiap tahun juga menunjukkan kecenderungan yang meningkat dalam 10 tahun terakhir. Jika pada tahun 2007 terdapat 104 kejadian, kemudian berturut-turut tahun 2008 (112 kejadian), 2009 (238), 2010 (400), 2011 (329), 2012 (291), 2013 (296), 2014 (600) dan 2015 (515). Selama 10 tahun terakhir terdapat 3.372 kejadian longsor di Indonesia yang menimbulkan korban jiwa 1.685 orang tewas, 1.657 jiwa luka-luka, 443.998 jiwa menderita dan mengungsi, dan lebih dari 22.000 rumah rusak akibat longsor.

Korban tewas yang ditimbulkan pun cukup besar yaitu tahun 2007 (93 orang tewas), 2008 (102), 2009 (76), 2010 (266), 2011 (171), 2012 (119), 2013 (190), 2014 (372) dan 2015 (135). Tentu ini bukan angka statistik belaka. Satu korban bencana adalah suatu tragedi dan harus diminimalkan.

Jutaan masyarakat Indonesia terancam dari bencana longsor. Apalagi meningkatnya curah hujan akan meningkatkan pula ancaman bencana longsor. Di Indonesia terdapat 40,9 juta jiwa (17,2% dari penduduk nasional) yang terpapar langsung oleh bahaya longsor sedang-tinggi. Dari total jumlah tersebut terdapat 4,28 juta jiwa balita; 323 ribu jiwa disabilitas, dan 3,2 juta jiwa lansia.

Semua terpapar dari longsor pada saat musim penghujan. Sebagian besar mereka tidak memiliki kemampuan menghindar dan memproteksi dirinya dari bahaya longsor. Bahkan masih banyak masyarakat yang tidak paham antisipasi mengenai longsor. Mitigasi bencana, baik struktural maupun non struktural masih sangat minim sehingga setiap musim penghujan longsor mengancam jiwa dan harta milik masyarakat.

Daerah rawan longsor sesungguhnya sudah dipetakan. Peta skala 1 : 250.000 sudah dipetakan dan dibagikan kepada seluruh Pemda. Bahkan PVMBG Badan Geologi menyusun peta prediksi longsor bulanan sesuai dengan ancaman curah hujan yang akan terjadi. Peta tersebut juga dibagikan ke Pemda dan dapat diunduh di website PVMBG disertai dengan tabel penjelasan daerah-daerah kecamatan yang rawan longsor tinggi, sedang hingga rendah. BNPB juga telah mengembangkan peta risiko bencana longsor yang memuat peta bahaya, kerentanan dan kapasitas. Namun demikian peta tersebut sebagian besar belum menjadi dasar dalam penyusunan dan implementasi rencana tata ruang wilayah.

Implementasi tata ruang berbasis peta rawan longsor masih sangat minim. Banyak permukiman masyarakat yang berkembang di daerah-daerah zona merah, bahkan di bawah lereng perbukitan atau pegunungan yang hampir tegak lurus. Memang daerah-daerah perbukitan dan pegunungan adalah daerah yang subur. Tanah gembur umumnya subur dan menyediakan mata air melimpah. Namun daerah tersebut rawan longsor sehingga harus dibatasi peruntukannya. Penataan ruang adalah upaya yang paling efektif untuk mencegah korban longsor.

Selama 10 tahun terakhir daerah-daerah yang paling banyak terjadi longsor adalah Jawa Tengah (1.126 kejadian), Jawa Barat (858), Jawa Timur (387), Sumatera Barat (149), dan Kalimantan Timur (83). Daerah-daerah lain juga sering terjadi longsor saat hujan deras. Daerah rawan longsor yang perlu memperoleh perhatian serius adalah daerah-daerah pegunungan dan perbukitan yang banyak penduduknya seperti di 1) Bukit Barisan dari Aceh, Sumut, Sumbar, Bengkulu, Sumsel, Lampung; 2) Jawa bagian tengah dan selatan; 3) Bali, NTT, NTB, Maluku dan Papua; dan 4) Sulawesi (hampir sebagian besar semua wilayah dengan topografi pegunungan yang berpotensi longsor dan banjir bandang).

Longsor dapat diantisipasi sebelumnya. Tidak mungkin semua wilayah di Indonesia harus dipasang sistem peringatan dini longsor. Sebab memerlukan ratusan ribu unit dan biaya yang sangat besar. Kuncinya adalah rencana tata ruang wilayah perlu ditegakkan. Sosialisasi dan peningkatan kapasitas pemda dan masyarakat terus ditingkatkan agar masyarakat tangguh menghadapi bencana longsor.

Sutopo Purwo Nugroho
Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB
http://www.bnpb.go.id/
Ambon DiREx 2016: Pembukaan TTX, Uji EAS Toolkit Tanggap Darurat


AMBON - Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Willem Rampangilei membuka Ambon Disaster Response Emergency Exercise (DiREx) 2016 - Tabletop Exercise (TTX) di Natsepa, Maluku Tengah, Maluku pada Selasa (15/11).
TTX ini bertujuan untuk menguji perangkat EAS atau EAS Rapid Disaster Response Toolkitpada penerimaan dan pengiriman bantuan kemanusiaan internasional kepada negara yang terdampak bencana. Skenario latihan berlatar belakang bencana gempabumi yang diikuti tsunami berkekuatan 8,7 SR yang menerjang pulau-pulau di Maluku. 

EAS Rapid Disaster Response Toolkit 
merupakan sebuah panduan komprehensif yang telah selesai disusun pada 2015. Panduan ini disusun untuk para pengambil kebijakan baik pada pengiriman dan penerimaan bantuan kemanusiaan internasional. Latihan ini juga memberikan kesempatan untuk menguji ASEAN’s Standard Operating Procedure for Regional Standby Arrangement and Coordination of Joint Disaster Relief and Emergency Response Operations(SASOP), Bab VI tentang Pemanfaatan dan Penggunaan Aset Militer dan Kapasitasnya.

Pada sambutan selamat datang, Gubernur Provinsi Maluku Said Assagaff menyampaikan bahwa Provinsi Maluku termasuk wilayah dengan indeks risiko bencana tinggi. Wilayah yang memiliki 1.340 pulau dan didominasi laut sekitar 92,6% memiliki tantangan dalam karakteristik rentang kendali pemerintahan. Assagaff menyampaikan bahwa provinsi menggunakan strategi pendekatan gugus pulau.
“12 gugus pulau dapat menjadi wilayah mandiri dan mampu memenuhi kebutuhan wilayahnya. Mewujudkan keterpaduan dalam penggunaan berbagai sumber daya. Oleh karena itu pendekatan ini dapat diterapkan dalam penanggulangan bencana, khususnya pada tanggap darurat,” kata Assagaff. 

Gubernur menambahkan bahwa gugus pulau dapat memberikan bantuan secepatnya kepada gugus pulau lain sehingga secara cepat pemerintah dapat hadir secara cepat.
Sementara itu, Willem yang membuka secara resmi pembukaan TTX – Ambon DiREX 2016 menyampaikan bahwa kemitraan dengan Australia pada penanggulangan bencana merupakan refleksi dari kerjasama yang lebih luas antar dua negara.
“Kekuatan kerjasama digarisbawahi melalui kerjasama yang kuat, pada tingkat pemerintahan yang berbeda dan berbagai isu, khususnya penanggulangan bencana,” kata Willem.
TTX yang diselenggarakan 15 – 17 November 2016 ini dihadiri 10 Negara ASEAN dan negara-negara East Asia Summit (EAS) seperti Amerika Serikat, Australia, Jepang, New Zealand, mitra nasional dan internasional, kementerian/lembaga, Pemerintah Provinsi, dan perguruan tinggi. (PHI) 
15 November 2016 11:0 WIB

MoU BNPB dan BPKP untuk Memperkuat Akuntabilitas Pengelolaan Keuangan

 JAKARTA-Kepala Badan Nasional Penanggulanggan Bencana, Willem Rampangilei menandatangani nota kesepahaman kerjasama antara Badan Nasional Penanggulangan Bencana dengan Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan pada (18/11/2016) bertempat di Gedung BPKP Pusat, Jakarta Timur.                                                                                                                                                        
     Dalam sambutannya, Willem mengatakan, “sebagaimana kita ketahui bahwa negara kita merupakan negara rawan bencana, faktanya ada 160 juta rakyat kita yang tinggal di daerah rawan bencana hutan, 60 juta di daerah rawan banjir, 40 juta di daerah rawan longsor, 4 juta tsunami, 1,1 juta daerah rawan erupsi. Sehingga diperlukan upaya penanggulangan bencana yang komprehensif, hal ini sudah menjadi amanat UU 24 tahun 2007 dan RPJMN 2015-2019 untuk fokus pada penurunan Indeks Rawan Bencana di 136 Kabupaten Kota yang tergolong daerah yang memiliki tingkat rawan bencana tertinggi.
      Selain itu upaya Penanggulangan bencana menjadi tanggung jawab kita bersama baik pemerintah, masyarakat dan dunia usaha. Kehadiran Pemerintah ditengah masyarakat korban bencana merupakan hal yang sangat berarti bagi penyemangat masyarakat korban bencana untuk dapat bangkit kembali. Peran serta Kementerian/lembaga nasional dalam penyelenggaraan penanggulangan bencana bertujuan untuk mendukung upaya yang terintegral dalam pengurangan risiko bencana,pencegahan bencana, tanggap darurat serta rehabilitasi dan rekonstruksi secara berdaya guna dan dapat dipertanggungjawabkan. Peran Pemerintah dalam penanggulangan bencana salah satunya diwujudkan dengan mengucurkan “dana on call” penanggulangan bencana ke Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), sehingga BPBD dapat mengoptimalkan kekurangan anggaran APBD terkait dana penanggulangan bencana tersebut.               
Untuk itu Nota Kesepahaman Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan (BPKP) dan BNPB dirancang dalam rangka penguatan tata kelola pemerintah yang baik di lingkungan Badan Nasional Penanggulangan Bencana, dan selanjutnya dapat dibentuk perjanjian kerja sama serta program kegiatan yang konkrit bekerjasama dengan BPKP,”ujar Willem. Sementara itu Kepala Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan, Ardan Adiperdana mengatakan, melalui kerjasama atau kemitraan ini, kita dapat mensinergikan kapasitas serta sumberdaya seiring dengan peningkatan frekuensi, intensitas, dan dampak bencana dalam rangka mewujudkan akuntabilitas dan transparansi pengelolaan dana bantuan bencana. Kita berharap, Nota Kesepahaman yang telah kita tandatangani tidak menjadi "sleeping document", akan tetapi perlu kita tindaklanjuti dengan Perjanjian Kerjasama (PKS) atau tindak lanjut dalam bentuk lainnya.
      Hal ini dimaksudkan agar kerjasama atau kemitraan yang kita bangun memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi masyarakat,” ujar Ardan. Nota Kesepahaman Kerjasama ini dimaksudkan untuk penguatan tata kelola pemerintahan yang baik di antara BNPB dan BPKP, guna mewujudkan hubungan yang saling menguntungkan dan saling menghormati, dengan berdasarkan pada itikad baik serta berpedoman kepada ketentuan peraturan perundang-undangan. Selain itu nota Kesepahaman Kerjasama ini bertujuan memperkuat akuntabilitas pengelolaan keuangan negara dalam rangka peningkatan perbaikan kinerja dan pelayanan publik menuju tata kelola pemerintahan yang baik dengan memanfaatkan sumber daya yang dimiliki berdasarkan tugas dan fungsinya.(adi)18 November 2016 14:0 WIB

Minggu, 05 Juni 2016

LONGSOR DI PALUPUH - AGAM TERNYATA MENELAN KORBAN JIWA



AGAM (5/6) – Longsor di Jorong Mudiak Kecamatan Palupuh Kabupaten Agam yang terjadi hari Sabtu, 4 Juni 2016 ternyata menelan korban jiwa. Hal ini diketahui setelah keluarga korban melaporkan 2 anaknya ke lokasi kejadian pada sore hari ini (5/6). Kedua kakak beradik yang dinyatakan hilang tersebut bernama Dulfitri (25), dan adiknya Nila Marta Sari (13) dilaporkan sedang dalam perjalanan dari arah bukittinggi menuju rumahnya di Jorong Pagadiah Mudik kecamatan Palupuh. Disaat informasi diterima masyarakat beserta Tim SAR dari BPBD Agam dan Provinsi Sumatera Barat, TNI dan Kepolisian segera melakukan penyisiran.
Pada pukul 16.30 wib sore tadi, korban atas nama Nila Marta Sari (13) diketemukan dalam kondisi meninggal dunia. Lokasi diketemukannya korban Nila berjarak sekitar 150 meter dari titik lokasi longsoran ke area aliran sungai. Korban saat itu langsung dilarikan ke Puskesmas terdekat dengan menggunakan kendaraan Patroli Polisi dan atas saran masyarakat langsung di bawa ke rumah duka. Sedangkan korban Dulfitri hingga saat ini masih dalam pencarian oleh tim SAR.
Menurut laporan Tim dari Pusdalops BPBD Provinsi Sumatera Barat yang berada di lokasi saat ini, Tim Pemadam Kebakaran Agam juga telah tiba di lokasi untuk melakukan penyemprotan material longsoran dari posisi seberang jalan yang telah dapat dilalui baik oleh kendaraan roda empat maupun roda dua,ke arah aliran sungai (KM 22). Yang diduga sementara, korban Dulfitri berada di posisi pada area tersebut.
Untuk kondisi cuaca di lokasi kejadian pada saat ini cukup cerah, lampu penerangan Light Tower dari provinsi juga telah dipasang, jadi tim SAR yang sedang melakukan evakuasi bisa fokus, ungkap Mega Rizaldi salah satu Satgas Pusdalops BPBD Provinsi Sumatera Barat yang saat ini ikut melakukan pencarian bersama tim lainnya. Selain pencarian penyemprotan di titik lokasi awal, tim juga melakukan penyisiran dari aliran sungai berjarak 200 - 300 meter. "Jika pencarian hari ini tidak berhasil, akan didatangkan tim lagi dari Basarnas, TNI dan Polri pagi besok", imbuhnya.
Untuk ruas jalan Bukittinggi - Pasaman sudah bisa dilewati saat ini, namun sebaiknya para pengguna jalan ini agar melewati jalan alternatif lainnya yaitu melalui arah Bukittinggi - Kumpulan, dikarenakan potensi longsoran kemungkinan masih bisa terjadi apalagi disaat kondisi hujan lebat. (Gst)

Jumat, 20 Mei 2016

Pentingnya Edukasi Bencana Bagi Pelajar dan Mahasiswa

JAKARTA - 150 siswa Sekolah Dasar Islam Ibnu Hajar Bogor dan belasan guru belajar kebencanaan di Diorama Bencana di lantai 11 dan 12 Graha BNPB Jakarta pada Kamis (17/3/2016). Para siswa dan guru sangat antusias menyimak dan memiliki keingintahuan yang tinggi tentang bencana. Bahkan mereka baru tahu jika ternyata Gunung Salak dan Gunung Gede Pangrango adalah gunungapi aktif tipe A. Banyak pertanyaan-pertanyaan sederhana yang ditanyakan siswa karena ketidaktahuannya. Mengapa banyak rumah dibangun di tengah sungai? Mengapa gunung kok bisa meletus? Mengapa cuaca sekarang sering berubah? Mengapa dinamakan Gunung Sinabung, apakah karena masyarakatnya suka menabung? Dan banyak pertanyaan lain. Termasuk pengetahuan guru yang masih terbatas tentang mitigasi bencana.

Bencana adalah suatu keniscayaan bagi Bangsa Indonesia. Bahkan peradaban Bangsa Indonesia, sesungguhnya tumbuh dan berkembang seiring dengan bencana yang mengiringinya. Tidak banyak yang tahu, di balik permai Danau Toba yang menghampar di Sumatera Utara, sesungguhnya terbentuk oleh letusan Gunung Toba yang  meletus hebat dan nyaris menamatkan umat manusia pada 75.000 tahun lalu. Begitu juga di zaman modern, kekuatan letusan Tambora pada 10-12 April 1815 adalah yang terbesar yang pernah tercatat dalam sejarah. Empat kali lipat dari amuk Krakatau pada 1883, dan 10 kali lipat dari erupsi Gunung Pinatubo di Filipina pada 1991. Erupsi Tambora juga berdampak global. Abu dan panas sulfur dioksida menyembur ke atmosfer, suhu rata-rata global merosot 2 derajat Celcius atau sekitar 3 derajat Fahrenheit. Iklim global berubah dan menimbulkan banyak bencana. Begitu juga bencana lainnya seperti gempa, tsunami, banjir, longsor, kebakaran hutan dan lahan lainnya hampir setiap hari terjadi.

Pengetahuan masyarakat Indonesia tentang bencana memang meningkat sejak tsunami Aceh 2004. Namun pengetahuan tersebut belum menjadi sikap, perilaku dan budaya yang mengkaitkan kehidupannya dengan bencana. Itulah salah satu penyebab masih tingginya kerentanan dan rendahnya kapasitas masyarakat menghadapi bencana.

Untuk itu edukasi bencana menjadi penting. Banyak aspek yang penting seputar kebencanaan. Misalnya pengenalan tentang potensi bencana yang ada di sekitar, histori bencana yang pernah terjadi, bentuk antisipasi, meningkatkan kesadaran tanda-tanda bencana, dampak bencana bagi individu, keluarga, dan komunitas, cara penanganan dalam kondisi bencana, serta bagaimana cara menyelematkan diri dari bencana. Bencana dapat terjadi sewaktu-waktu tanpa bisa diprediksi sebelumnya, baik itu bencana alam ataupun sosial. Melalui pendidikan bencana, tidak berarti risiko dampak bencana dapat ditekan sehingga sama sekali tidak menimbulkan dampak. Tujuan dan harapan yang ingin dicapai melalui pendidikan bencana adalah mencapai minimal risiko dampak bencana.

Para siswa dan guru SD Islam Ibnu Hajar Bogor, merasa puas dengan kunjungan ke Diorama Bencana  di Graha BNPB, Jakarta. Mereka menjadi lebih paham. Diorama Bencana BNPB menjadi salah satu tempat edukasi bencana yang dapat dikunjungi pelajar, mahasiswa dan masyarakat. Meski masih terbatas tetapi memberikan pengetahuan yang menarik. Jika tidak ke Diorama Bencana BNPB kemana lagi bisa belajar penanggulangan bencana. Sebab fasilitas edukasi semacam ini masih sangat terbatas. http://www.bnpb.go.id/berita/2860/pentingnya-edukasi-bencana-bagi-pelajar-dan-mahasiswa

Sutopo Purwo Nugroho
Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB

Pusdalops PB Provinsi Sumatera Barat: BPBD Mentawai Salurkan Satu Unit Bus Untuk Anak Sekolah Di Bulasat

Pusdalops PB Provinsi Sumatera Barat: BPBD Mentawai Salurkan Satu Unit Bus Untuk Anak Sekolah Di Bulasat

Sabtu, 30 Januari 2016

FEBRUARI 2016: PRAKIRAAN CUACA DAN POTENSI BENCANA SUMATERA BARAT


Stasiun Klimatologi Sicincin - Badan Meterologi dan Geofisika (BMKG) sebagai instansi teknis yang salah satu tugasnya memantau dan menganalisa kondisi iklim dan cuaca mengeluarkan prakiraan Musim, Curah Hujan dan sifat hujan secara berkala. Berdasarkan Laporan Stasiun Klimatologi Sicincin, tidak jauh berbeda dengan Bulan Januari 2016, Curah Hujan Wilayah Sumatera Barat pada Bulan Februari 2016 umumnya berpeluang mendapat Curah Hujan menengah ( 101 - 300 mm). Sebagian besar wilayah Kab. Solok Selatan masih berpeluang mendapat Curah Hujan Tinggi (301 - 400) hingga Sangat Tinggi (401 - 500), sementara itu wilayah Pasaman Barat akan berpeluang   mendapat Curah Hujan Tinggi (3001 - 400). Daftar wilayah yang bepeluang mendapat Curah Hujan tinggi - sangat tinggi dapat dilihat pada tabel 1 dan 2.

Sifat hujan hujan untuk bulan Februari 2016 (tabel 3) umumnya Normal (45 - 115 %) dan Bawah Normal (<84%). Spot wilayah dengan Sifat Hujan Atas Normal (>115 %) akan meliputi sebagian besar wilayah Kabupaten Tanah Datar.

Kesiapsiagaan untuk darurat bencana yang berhubungan dengan kondisi Iklim dan cuaca perlu ditingkatkan pada wilayah-wilayah berpeluang Curah Hujan Tinggi hingga Sangat Tinggi. Kawasan dengan sifat hujan Atas Normal juga perlu diperhatikan mengingat potensi gerakan tanah akan meningkat ketika curah hujan meningkat signifikan di atas rata-rata.


Peta Prakiraan Curah Hujan Bulan yang dikeluarkan oleh Stasiun Klimatologi Sicincin dengan Peta Prakiraan Wilayah Potensi Terjadi Gerakan Tanah yang dikeluarkan oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi juga perlu disandingkan untuk analisa detil daerah berpotensi longsor, banjir bandang. Peluang terjadinya bencana longsor akan meningkat jika daerah yang sudah dinyatakan berpotensi tinggi gerakatan tanah juga diperkirakan berpeluang mendapat curah hujan tinggi. Namun kemungkinan terjadinya longsor juga akan meningkat pada daerah yang berpotensi gerakan tanah Menengah jika kawasan tersebut juga berpeluang mendapat Sifat Hujan Atas Normal (>115 %)


Tabel 1. Kawasan Curah Hujan Tinggi (301 - 400), hasil overlay Peta Prakiraan Curah  Hujan Januari 2016 (Stasiun Klimatologi Sicincin) dengan peta kecamatan.

No
Kabupaten/Kota
Kecamatan
1
Kab. Pasaman Barat
Kec. Luhak Nan II
2
Kec. Ranah Pesisir
3
Kec. Pasaman
4
Kab. Solok Selatan

Pauh Duo
5
Balai Janggo
6
Sangir Batang Hari
7
Sungai Pagu

Tabel 2. Kawasan Curah Hujan Sangat Tinggi (401 - 500), hasil overlay Peta Prakiraan Curah  Hujan Januari 2016 (Stasiun Klimatologi Sicincin) dengan peta kecamatan.

No
Kabupaten/Kota
Kecamatan
1
Kab. Solok Selatan
Sangir
2
Sangir Jujuan
3
Pauh Duo Bagian Timur
4
Sungai Pagu Bagian Selatan
5
Sangir Balai janggo Bagian Barat
6
Kab. Dharmasraya
Sungai Rumbai Bagian Selatan

Tabel 3. Kawasan berpeluang dengan Sifat Hujan Atas Norma (>115%), hasil overlay Peta Prakiraan Curah  Hujan Januari 2016 (Stasiun Klimatologi Sicincin) dengan peta kecamatan.

No
Kabupaten/Kota
Kecamatan
1
Kabuaten Tanah Datar
Lintau Buo bagian Utara
2
Tanjung Emas
3
Salimpaung bagian Selatan
4
Sungai Tarab Timur
5
V Kaum
6
Rambatan
7
Pariangan bagia Timur
8
Sungayang






posted by YSR